Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Menguji Adrenalin di Deburan Ombak Pulau Merah...






Menguji Adrenalin di Deburan Ombak Pulau Merah... merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


BERSELANCAR di atas deburan ombak Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, benar-benar menguji adrenalin. Ombak bergulung-gulung hingga ketinggian dua meter di tengah batu karang dan perbukitan tambang emas Tumpang Pitu. Ombak pun menyapu hingga pantai.

Pulau Merah berada di pesisir selatan Jatim, sekitar 100 kilometer dari Kota Banyuwangi. Pulau itu bak madu sebab menyimpan emas sesungguhnya serta deburan ombak untuk menguji adrenalin. Pantai ini lebih dulu tersohor dengan keindahannya.

Dibandingkan dengan pantai lain di sekitarnya, Pulau Merah memang terlihat berbeda. Pasirnya putih kekuningan dengan bebatuan merah. Di tengah pantai menjulang sebuah pulau kecil tidak berpenghuni. Pulau kecil itu memiliki warna tanah kemerahan sama dengan batu-batu yang ditemukan di tepi pantai. Saat air laut surut, pulau tersebut akan menyat u dengan pantai.

Penduduk lokal biasa menyisir pantai, mencari kerang di sekitar pulau untuk dikonsumsi atau dijual kembali. Sehari-hari, kawasan ini hanya diisi dengan beberapa nelayan yang berperahu cadik atau penjaring ikan.

Berbeda dengan kawasan wisata lain yang sudah ramai dengan hiruk pikuk aktivitas manusia, Pulau Merah terkesan lebih tenang dan sepi. Letaknya sedikit tersembunyi. Jalan masuk menuju kawasan wisata ini melewati kompleks kantor eksplorasi emas Tumpang Pitu.

Di rumah warga

Untuk menjangkau kawasan ini diperlukan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa. Angkutan umum hanya mencapai pusat Kecamatan Pesanggaran. Meski letaknya tersembunyi, peselancar tak lagi asing lagi dengan Pulau Merah. Pada bulan tertentu, seperti Mei, mereka berdatangan untuk menikmati gulungan ombak di pantai selatan itu. Peselancar juga rela menginap di rumah warga karena memang belum ada penginapan atau hotel.

< img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2013/05/25/0754508-pulau-merah-di-kecamatan-pesanggaran-kabupaten-banyuwangi-jawa-timur.jpg-780x390.jpg" alt="" />Kompas/Agnes Swetta Pandia Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ombak di kawasan ini mungkin tak setinggi Pantai Plengkung, Banyuwangi, yang legendaris. Namun, peselancar mula atau yang ingin sekadar santai berselancar sudah bisa menikmati gelombang pantai di Pulau Merah yang lebih aman dan nyaman. Apalagi, belum ada tempat berselancar seperti di Pulau Merah yang dikelilingi bukit dan batu karang.

Akhir Mei lalu, kompetisi selancar internasional pun digelar di pantai itu. Layaknya bersolek, pantai yang semula tenang dan sepi kini penuh turis. Fasilitas umum dibangun dan pantai bersih karena warga pasti mengambil sampah dan menjualnya kepada perusahaan. Jalan menuju kawasan ini yang semula rusak berat pun diperbaiki menjadi mulus dan lebar.< br />
Rumah warga di kawasan pantai yang sebelumnya dikontrak oleh perusahaan eksplorasi emas diubah menjadi homestay bagi turis. Taksi pun didatangkan untuk mengangkut peserta selancar yang menginap di hotel, sekitar 10 kilometer dari lokasi. Pantai yang biasanya hanya diisi dengan beberapa perahu cadik diisi pula dengan deretan kursi jemur lengkap dengan pelayanan pijat kaki.

Aroma ikan bakar yang dimasak oleh koki, yang sebagian besar adalah warga lokal, menyebar di sekeliling pantai. Acara makan malam pun diadakan di pantai dengan iringan deburan ombak dan dihiasi yang gemerlap dengan lampu hias. Ramainya kawasan pantai membuat penduduk setempat ketiban rezeki musiman.

Sunaryah (50) yang sehari-hari berjualan ikan laut tak hanya menikmati larisnya penjualan ikan, tetapi juga bisa jadi koki dadakan. Sepekan sebelum kompetisi selancar dimulai, ia sudah sibuk menjadi koki barbecue di tepi pantai.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang m enggali potensi emas kawasan ini dengan menjualnya sebagai kawasan wisata kelas internasional. Kompetisi selancar menurut rencana digelar setiap tahun untuk memopulerkan pantai itu sebagai destinasi wisata dunia.

Kami mendatangkan tenaga trainer hotel untuk melatih warga lokal melayani wisatawan agar profesional. Dengan cara demikian, warga akan kecipratan rezeki, kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Saat kompetisi selancar usai, warga masih bisa melayani wisatawan yang datang berkunjung. Wisatawan peselancar memang datang musiman. Namun, wisatawan lokal diharapkan terus mengalir selama keindahan pantai Pulau Merah masih bisa dinikmati. Bersinergi dengan kawasan lain, seperti Taman Nasional Merubetiri yang terletak 10 kilometer dari pantai Pulau Merah, pantai itu akan menjadi tujuan ekowisata.

Emas terpendam

Bagi warga, Pulau Merah adalah keindahan. Namun, bagi peneliti geologi, Pulau Merah adalah harta yang terpendam. Warna merah bebatuan di pulau itu menandakan adanya kandungan mineral berharga, seperti emas, perak, krom, dan tembaga di dalamnya. Merah warna bebatuan itu bisa dilihat jelas di bagian tebing pulau yang terekspos karena longsor.

Kompas.com/ M. AGUS FAUZUL HAKIM Seorang pengunjung pantai Plengkung di Banyuwangi tengah mencari titik bidik lensa kameranya. Pada saat musim gelombang, pantai tersebut banyak dikunjungi para peselancar. Dalam peta pertambangan emas, Pulau Merah masuk dalam zona kawasan yang mengandung emas, seurat dengan Bukit Tumpang Pitu yang kandungan emasnya diperkirakan mencapai 2 juta ounce. Saat memasuki jalan menuju pantai, Anda pun akan melewati kompleks kantor perusahaan pertambangan besar.

Saat ini, perusahaan pertambangan masih mengeksplorasi kawasan Tumpang Pitu. Namun, eksploitasi sudah dulu dilakukan oleh pertambangan rakyat sejak 2007. Menurut peneliti dari Universitas Tujuh Belas Agustus, Banyuwangi, Susintowati, aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh petambang tradisional telah merusak lingkungan.

Pencemaran merkuri telah ditemukan di muara sungai Pantai Lampon yang terletak 10 kilometer dari timur pantai Pulau Merah. Merkuri yang terkandung di bekas limbah pemurnian emas mencapai 600 kali lebih tinggi dari standar toleransi alam yang hanya 0,01 ppm. Kerang dan siput di kawasan itu pun sudah terdeteksi menyerap merkuri. Namun, hingga kini belum ada upaya untuk mengatasi pencemaran itu, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Begitu dekatnya kawasan yang tercemar dengan Pantai Merah menjadikan kawasan itu rawan. Bisa jadi kelak ketika penambangan emas masif berjalan dan tanpa pengawasan yang ketat, ekowisata pantai Pulau Merah yang sudah dipromosikan tinggal nama.
Via: Menguji Adrenalin di Deburan Ombak Pulau Merah...

Cek artikel menarik lain seperti Menguji Adrenalin di Deburan Ombak Pulau Merah... di blog kami.

Sleman Dikunjungi 150.160 Wisatawan






Sleman Dikunjungi 150.160 Wisatawan merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


SLEMAN, KOMPAS.com - Obyek wisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dikunjungi sebanyak 150.160 wisatawan selama liburan sekolah. "Jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan sebanyak 50.000 wisatawan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ayu Laksmidewi, Selasa (16/7/2013).

Menurut Ayu, pencapaian tersebut dinilai diluar perkiraan karena liburan akhir sekolah bertepatan dengan bulan puasa sehingga hal ini menggembirakan. "Ini merupakan sesuatu hal yang membanggakan," katanya.

Menurut Ayu, akumulasi angka kunjungan wisatawan selama liburan akhir sekolah tersebut dihitung 17 hari sejak 28 Juni hingga 14 Juli 2013 di berbagai destinasi wisata.

"Penyebaran kunjungan wisatawan tersebut meliputi kunjungan ke obyek wisata Kaliurang sebanyak 15.430 wisatawan yang meliputi Taman Rekreasi Anak (3.452 wisatawan) , Taman Nasional Gunung Merapi (4.543 wisatawan), Jeep Wisata Kaliurang (3.520 wisatawan), dan Museum Ullen Sentalu (3.322 wisatawan)," katanya.

Kemudian, Candi Prambanan dikunjungi 85.103 wisatawan yang terdiri 73.985 wisatawan nusantara dan 11.118 wisatawan mancanegara. Selanjutnya Candi Ratu Boko 11.352 wisatawan meliputi 11.159 wisatawan nusantara dan 193 wisatawan mancanegara, Volcano Tour Cangkingan 27.125 wisatawan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Petugas membantu pengunjung Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, mengenakan sarung batik bermotif Pintu Ratna, Selasa (21/8/2012). Pengelola Taman Wisata Candi Prambanan mulai mewajibkan setiap pengunjung mengenakan sarung batik tersebut sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap tempat sakral bagi umat Hindu tersebut serta untuk melestarikan batik. Pada tahap awal, pengelola tempat itu menyiapkan 5.000 helai sarung batik untuk mendukung program Sarungisasi tersebut. Museum Gunungapi Merapi dikunjungi 6.460 wisatawan meliputi 6.330 wisatawan nusantara dan 130 wisatawan mancanegara dan Monumen Jogja Kembali sebanyak 13.678 wisatawan.

"Selain itu wisatawan yang berkunjung ke beberapa desa wisata tercatat 2.364 wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Sidoakur (85 wisatawan), Desa Wisata Tanjung (109 wisatawan), Gamplong (200 wisatawan), Pentingsari (360 wisatawan), dan Pulesari (1.610 wisatawan)," tambah Ayu.

Via: Sleman Dikunjungi 150.160 Wisatawan

Cek artikel menarik lain seperti Sleman Dikunjungi 150.160 Wisatawan di blog kami.

Obyek Wisata di Bengkulu Sepi Pengunjung






Obyek Wisata di Bengkulu Sepi Pengunjung merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


BENGKULU, KOMPAS.com - Tidak seperti pada musim liburan biasanya, pada seminggu terakhir liburan sekolah, seperti terlihat pada Sabtu dan Minggu (14/7/2013), obyek wisata di Kota Bengkulu justru sepi pengunjung.

Dua obyek wisata unggulan Kota Bengkulu, yaitu Benteng Marlborough dan rumah pengasingan Bung Karno, yang biasanya ramai dikunjungi pelajar, saat liburan ini malah sepi.

Apabila pada liburan sekolah jumlah pengunjung Benteng Marlborough bisa mencapai sekitar 600 orang, Minggu hingga siang hari jumlah pengunjung itu tak sampai 50 orang. Pengunjung yang sepi juga terjadi di rumah pengasingan Bung Karno di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.

Menurut petugas jaga di Benteng Marlborough, Almidianto, Minggu, sepinya kunjungan sepekan terakhir disebabkan oleh liburan sekolah bertepatan dengan bulan puasa.

Saat libur Lebaran nanti baru ramai wisatawan. Kalau sekarang, paling ramai sore hari oleh anak muda yang menunggu saat berbuka puasa, ujarnya.
Via: Obyek Wisata di Bengkulu Sepi Pengunjung

Cek artikel menarik lain seperti Obyek Wisata di Bengkulu Sepi Pengunjung di blog kami.

Torosiaje, Keindahan Pesona dari Gorontalo di Teluk Tomini






Torosiaje, Keindahan Pesona dari Gorontalo di Teluk Tomini merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


DI bagian barat Provinsi Gorontalo ada sebuah kampung yang berdiri di atas permukaan laut Teluk Tomini, namanya Torosiaje. Kampung yang berdiri sejak 1901 itu dihuni suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut tangguh. Kini, Torosiaje menjelma menjadi perkampungan wisata yang elok dan menampilkan pesona lain dari Gorontalo.

Torosiaje kini merupakan perkampungan yang terletak 600 meter dari daratan Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, atau sekitar tujuh jam perjalanan darat menuju arah barat dari ibu kota Provinsi Gorontalo. Setiba di dermaga Torosiaje, pengunjung akan disambut ojek perahu yang banyak bersandar di dermaga. Setiap penumpang dipungut Rp 2.000 menuju Torosiaje yang memakan waktu 10 menit berperahu.

Rumah-rumah di Torosiaje berupa rumah panggung yang semuanya berbahan kayu. Setiap rumah terhubung dengan koridor yang menjadi jalan utama selebar 2 me ter dan panjangnya 2,2 kilometer berpola huruf U. Asyiknya, berkeliling di sela-sela rumah di Torosiaje ibarat menyusuri gang-gang sempit permukiman di Jakarta dengan perahu.

Dalam sejarah yang diceritakan secara turun-temurun, toro dalam bahasa Bajo adalah tanjung dan siaje merupakan julukan kepada seseorang yang berarti si aje (si haji). Artinya, Torosiaje adalah tanjung yang ditemukan oleh seorang pria bergelar haji dan dipanggil siaje, saat itu. Awal berdirinya Kampung Torosiaje hanya terdapat puluhan jiwa.

Saat itu, hanya ada sekitar 34 jiwa di awal ditemukannya kampung ini. Lambat laun, jumlahnya makin banyak, bahkan hingga sebagian ada yang pindah ke daratan, ujar Yoote Repi (65), tokoh sekaligus mantan kepala desa di Torosiaje.

KOMPAS/ARIS PRASETYO Kampung Torosiaje di Gorontalo. Kini, Torosiaje sudah menje lma menjadi perkampungan modern yang dihuni sekitar 1.400 jiwa. Tiap rumah sudah teraliri listrik. Dalam banyak kesempatan, sesekali terdengar suara musik yang diputar kencang dari sound system milik warga. Telepon seluler juga bukan lagi pemandangan yang aneh karena anak-anak pun sudah menggenggamnya.

Wisata bahari

Dideklarasikan sebagai Kampung Wisata Bahari pada 2007 oleh pemerintah setempat, Torosiaje menawarkan wisata bahari yang cukup menawan. Pemandangan di pagi hari atau menjelang matahari terbit menawarkan pesona alam yang menyihir. Pantulan cahaya matahari pagi mengubah permukaan air laut di Torosiaje seperti hamparan emas bersinar kekuningan. Hilir mudik perahu orang Bajo yang disebut sope, sangat bagus menjadi sasaran kamera wisatawan yang gemar fotografi.

Panorama saat matahari tenggelam pun tak kalah. Pemandangan detik per detik matahari tenggelam di kaki langit sangat sayang dilewatkan. Saat itu, matahari berub ah warna kemerahan dengan ukuran yang lebih besar ketimbang pada siang hari, akan menjadi sasaran empuk kamera wisatawan. Bahkan, hingga malam hari, keindahan Torosiaje belum habis. Kemilau lampu rumah warga ibarat ratusan kunang-kunang di atas laut.

Di Torosiaje ada kamar penginapan yang berjumlah enam unit yang tarifnya Rp 100.000 per malam. Jika kamar terisi penuh, pengunjung bisa menginap di rumah milik warga yang juga disewakan dengan tarif yang sama di penginapan. Untuk urusan makan tak perlu ada yang dicemaskan di Torosiaje. Menu utama makanan di sana adalah ikan yang benar-benar segar dari laut. Ikan bakar dengan dabu-dabu (sambal khas Gorontalo) adalah menu andalan di Torosiaje.

Jika ada tamu menginap, pengunjung akan dipungut biaya tambahan untuk air bersih. Ongkosnya hanya Rp 10.000 untuk satu bak air berukuran 110 liter, kata Akbar Arsyad Mile (37), penanggung jawab sekaligus pengelola wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pohuwato di Torosiaje.

KOMPAS/ARIS PRASETYO Kampung Torosiaje di Gorontalo. Seandainya kamar penginapan penuh, beberapa rumah warga bisa dijadikan tempat alternatif menginap dengan tarif yang sama. Rumah-rumah tersebut sudah dikemas memang untuk disewakan kepada pengunjung. Jadi, pengunjung tak perlu khawatir kehabisan kamar menginap, terutama saat musim liburan yang selalu dipenuhi wisatawan di Torosiaje.

Salah satu wisatawan yang pernah berkunjung ke Torosiaje, Andri Arnold (35), mengaku terpesona dengan suasana di Torosiaje. Selain menawarkan keindahan panorama laut, suasana tenang dan jauh dari kebisingan membuat pengunjung merasa nyaman saat berada di Torosiaje.

Di Torosiaje, saya bisa puas makan berbagai jenis ikan dengan sambal dabu-dabu. Sampai benar-benar puas. Sesuatu yang jarang didapat di tempat lain, kata Andri yang b ekerja di sebuah perusahaan swasta di Gorontalo itu. (Aris Prasetyo)
Via: Torosiaje, Keindahan di Teluk Tomini

Cek artikel menarik lain seperti Torosiaje, Keindahan Pesona dari Gorontalo di Teluk Tomini di blog kami.

Rumah Lanting Berganti Wajah






Rumah Lanting Berganti Wajah merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


"Di atas sungai maapung rumah kayu bahatap daun, dinding basusun sirih palindung, panaduh pacang hidup jukung di higa bajarat intang tanjak (di atas sungai ada rumah kayu terapung, atapnya daun rumbia, dinding bersusun sirih, di sisi rumah ada sampan terikat tiang)".

Sekilas lirik awal lagu berjudul Manapuk Banyu di Apar (Menepuk Air di Talam) karya Anang Ardiansyah, maestro lagu Banjar, ini menggambarkan bagaimana rumah lanting yang dipakai sebagai tempat berlindung dengan jukung sebagai tempat mencari penghidupan dulu banyak menghiasi sungai. Kini, seiring perkembangan zaman, keberadaan rumah khas masyarakat Banjar ini perlahan hilang.

Lanting telah digantikan oleh rumah panggung yang lebih permanen meski lokasinya masih sama, yakni di atas permukaan sungai. Bedanya, rumah lanting laksana rakit, mengapung. Rumah permanen yang ada saat ini menggunakan tiang panjan g yang menancap di tepian sungai.

Rumah lanting bisa ditemukan, antara lain, di Kuin Cerucuk, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di kawasan itu, kita bisa melihat rumah lanting yang masih dipakai untuk tempat tinggal atau kios yang menjajakan kebutuhan sehari-hari mengapung di tepian Sungai Kuin yang bermuara ke sungai besar Barito.

Salah satu lanting yang dipakai untuk tempat tinggal adalah milik Hilmi (50), yang ada di depan rumah Main (35). Dari luar, yang tampak hanya bangunan kayu berwarna abu-abu lantaran catnya pudar dimakan usia. Rumah berukuran 7 meter x 4 meter itu fondasinya menancap di beberapa gelondong kayu berdiameter besar. Untuk pelampung, biasanya dipilih jenis kayu yang ringan.

Baru di atas pelampung disusun rangka dasar lantai (gelagar). Biasanya gelagar dibuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageryi) yang diikatkan pada pelampung memakai pancang dari besi. Setelah itu baru disusun d inding (tawing) berbahan papan. Seiring perkembangan, kini atap rumah lanting terbuat dari seng, bukan lagi rumbia seperti pada masa lalu.

Seperti rumah lainnya, lanting milik Hilmi juga memiliki pintu (lawang) yang menghadap ke sungai dan daratan. Rumah itu dilengkapi jendela kecil (lalungkang) di sisi kiri dan kanan. Bagian dalam terdiri atas ruang tamu dan ruang tidur. Adapun kamar kecil ada di luar, terpisah dari bangunan induk.

Agar tidak larut terbawa air, lanting itu diikat pada tiang kayu yang menancap di dasar sungai. Untuk memudahkan mobilitas penghuninya terdapat titian sempit dari kayu yang menghubungkan rumah dengan daratan atau rumah lain.

Rumah saya ini dulu juga lanting sebelum akhirnya berubah menjadi rumah panggung tahun 1990-an, ujar Main.

Rumah bergoyang

Selain di Banjarmasin, lanting masih bisa ditemui antara lain di Danau Panggang (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), Tamban dan Alalak (Kabupaten Barito Kuala), dan Martapura (Kabupaten Banjar). Di Kalimantan Tengah, jenis rumah ini masih mudah dijumpai, seperti di Sungai Kahayan (Kota Palangkaraya) dan Kuala Kapuas (Kabupaten Kapuas).

Menurut Main, pada 1970-an, hampir semua rumah warga yang bermukim di pinggir sungai berbentuk lanting. Rumah itu bergoyang kencang saat ada kapal besar lewat. Sifatnya juga fleksibel, mengikuti ketinggian permukaan air sehingga terbebas dari banjir.

Namun, perkembangan waktu membuat lanting di Kuin Cerucuk berkurang drastis. Kini, yang tersisa tak sampai 10 unit. Itu pun sebagian besar merupakan kios yang hanya bisa dijangkau menggunakan alat transportasi air.

Banyaknya rumah lanting yang hilang dan berganti dengan rumah model baru disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, kendala biaya. Untuk membangun sebuah rumah lanting, diperlukan dana besar, terlebih untuk mendatangkan kayu gelondongan yang kini kian sulit dicari seiring menyusutnya hut an. Walhasil untuk memperoleh kayu itu, calon pemilik rumah lanting harus mencari ke tempat yang jauh.

Sebenarnya pelampung bisa juga dibuat dari bambu dalam jumlah banyak yang diikat menjadi satu. Namun, umur pakainya tidak seawet kayu, yang bisa mencapai puluhan tahun. Selain itu, rumah lanting juga lebih riskan. Apabila pemilik lengah, pelampung bisa dicuri orang dengan digergaji.

Hal ini bisa terjadi karena kayu itu memiliki nilai jual, ujar Main, yang siang itu tengah memancing ikan di teras rumahnya yang menghadap ke sungai. Rumah lanting juga rawan rusak. Rumah ini memiliki sifat tahan banjir, tetapi jika air sungai surut, rumah tersebut gampang rusak. Rumah itu akan terdampar di dasar tepian sungai dengan posisi miring.

Masalah lain yang membuat pendirian rumah lanting berkurang adalah perkembangan kios di darat. Saat ini, masyarakat di Banjarmasin memperoleh banyak kemudahan di darat. Mau belanja apa saja sudah ada toko di darat yang menyediakan. Kalau dulu, kan, kehidupan sungai masih ramai, ungkap Rizali (32), warga Kompleks Dasa Maya, Alalak Selatan, Banjarmasin.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO Sebuah rumah lanting yang dimanfaatkan sebagai warung di tepi Jalan Pangeran, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, nampak berdiri anggun. Hilangnya rumah lanting diakui oleh Ariffin (60). Pensiunan pegawai Departemen Keuangan ini mengaku waktu kecil pernah ikut bergotong royong membangun rumah lanting di daerahnya. Masyarakat hiruk-pikuk saat mengangkat kayu gelondongan. Hal itu masih teringat jelas di benaknya.

Tahun 1970-an dan 1980-an di sini semua rumah adalah lanting. Kondisi pantai (tepian sungai) juga masih dihiasi rerumputan dan pohon pisang. Namun, saat ini, kondisinya berubah. Semua lanting tidak ada dan kini dipenuhi oleh rumah panggung, ucap Ariffin, yang setahun terakhir menyewa sebuah rumah lanting di dekat Jalan Pangeran, Kelurahan Pangeran, yang posisinya agak di tengah Kota Banjarmasin.

Ariffin menyewa rumah yang didirikan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat setempat untuk berjualan soto banjar. Warung yang sengaja dibuat untuk mendukung wisata itu dibangun tahun 2000, lengkap dengan dermaga kecil di sisi kanan dan kelotok yang bisa disewa oleh wisatawan.

Budayawan Banjar, Syamsiar Seman, dalam bukunya berjudul Rumah-rumah Adat Banjar Bahari (Prasarana Hunian Langka), yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menuliskan, lanting merupakan salah satu dari 12 rumah adat yang ada di Banjar. Rumah jenis lain, antara lain bubungan tinggi, gajah baliku, palimasan, palimbangan, dan cagak burung.

Menurut Syamsiar, keberadaan rumah lanting tidak terlepas dari situasi zaman dulu ketika sungai memegang peranan penting dalam kehidupan orang Banjar. Rumah lanting awalnya dihuni oleh nelayan dan dalam perkembangannya digunakan sebagai media berdagang. Ciri bangunan rumah lanting tak berkembang, sederhana.
Via: Rumah Lanting Berganti Wajah

Cek artikel menarik lain seperti Rumah Lanting Berganti Wajah di blog kami.

Kera-kera Penghibur dari Pulau Kambang






Kera-kera Penghibur dari Pulau Kambang merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.

DUA warik atau kera baru-baru ini terlihat bercanda di kubangan di Wisata Hutan Alam Pulau Kambang (Kembang), Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Keduanya bergumul dan saling menerjang. Saat dilempar makanan, keduanya langsung mengejarnya. Setelah itu, keduanya bercanda lagi di kubangan.

Sekitar 20 meter dari kubangan, seekor warik mengunyah kacang sambil menggendong anaknya. Anak kera tampak meringis dan berebut makanan saat seorang bocah yang berkunjung memberinya kacang. Seperti mengucapkan terima kasih, kera-kera itu menjerit-jerit. Pengunjung tersenyum menyaksikan ulah kera-kera jenaka itu. Ulahnya membuat pengunjung terhibur.

Saat liburan sekolah seperti sekarang ini atau pada hari libur akhir pekan, pengunjung Wisata Hutan Alam Pulau Kembang bisa mencapai 400-700 orang. Selain orang dewasa, kebanyakan anak-anak bersama orangtua. Pada hari libur atau akhir pekan, harga tiket masuk bagi anak-anak di atas usia 6 tahun hingga orang dewasa Rp 5.000 per orang. Harga tiket untuk anak usia di bawah 6 tahun Rp 3.000.

Wisata Hutan Alam Pulau Kembang dihuni ratusan satwa kera berekor panjang dan beberapa jenis burung. Kawasan wisata ini merupakan delta seluas 60 hektar di tengah Sungai Barito. Pada tahun 1976, pulau itu ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 788/Kptsum12/1976.

Lokasi Wisata Hutan Alam Pulau Kembang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Kota Banjarmasin, Kalsel. Untuk menuju ke lokasi, pengunjung hanya bisa menempuhnya dengan perahu klotok sekitar 15 menit.

Kacang dan pisang

Selain menyaksikan ulah kera-kera jenaka, pengunjung juga bisa menonton kera-kera yang pandai berenang di sungai. Pengunjung juga bisa berinteraksi dengan kera jika berada di kawasan itu, bahkan merasakan sensasi saat dikerubuti kera-kera. Sa at menelusuri lintasan jalan di hutan wisata, kera-kera mengikuti sambil berloncatan dari dahan ke dahan sambil mengunyah atau menggendong anaknya.

Menurut petugas loket karcis, Rahadian, sebenarnya banyak pengunjung ke Wisata Hutan Alam Pulau Kembang, tetapi mereka pilih tetap di atas perahu atau mengelilingi delta. Biasanya, ada pengunjung yang takut dengan kera-kera tersebut sehingga hanya melihat dari jauh kawasan wisata hutan alam tersebut, katanya.

Namun, tak sedikit yang justru berani dan senang memberikan kacang atau pisang kepada kera-kera itu. Ulah kera-kera yang nakal itu memang membuat pengunjung merasa geli bercampur takut dan terkejut. Apalagi, jika tiba-tiba kera bergelayutan di pundak pengunjung dan merebut pisang atau kacang dari tangan.

Jangan ditepis, biarkan saja. Nanti keranya marah. Nanti keranya turun sendiri, kata Minah (50), salah seorang pemandu wisata, kepada pengunjung yang digelayuti beberapa kera. Ia membawa tong kat kayu sepanjang satu meter untuk menghalau kera-kera itu.

Tak semua kera itu nakal. Ada juga yang sok akrab dan bersahabat, tetapi tak sedikit yang liar dan usil. Seperti menunggu majikannya, mereka siap menyambut dengan ringisannya yang khas. Meski demikian, barang-barang seperti tas, kacamata dompet, dan telepon seluler harus disimpan baik-baik, jangan sampai direbut dan dibawa kabur ke atas pohon.

Namun, agar tak diserang, pengunjung bisa menyiapkan pisang atau kacang untuk menyuap-nya. Jangan khawatir karena ada 29 pemandu wisata dan penjual pisang dan kacang yang akan mengusir kera-kera nakal. Pedagang kacang atau pisang biasanya menjual satu pak isi 10 bungkus kacang dengan harga Rp 20.000 atau Rp 10.000 per empat bungkus. Pisang mole dijual Rp 10.000 untuk dua setengah sisir.

Pengunjung juga tak jalan sendiri. Dia akan diikuti pemandu dan penjual kacang/pisang. Sebab itu, perlu menyiapkan uang tips. Kami tidak mendapat bayaran, teta pi hanya mengandalkan keikhlasan pengunjung, kata Imah (28).

Selain menikmati ulah kera yang jenaka, pengunjung juga bisa merasakan hawa sejuk kawasan hutan di Pulau Kembang yang banyak pohon itu. Ada pula pengunjung yang sengaja datang dengan niat atau nazar tertentu. Hal ini ditopang dengan adanya altar/kuil yang digunakan etnis Tionghoa-Indonesia untuk mewujudkan kaul atau nazar itu. Altar digunakan sebagai tempat meletakkan kembang untuk dipersembahkan kepada penjaga Pulau Kambang. Di dekat altar, ada dua arca berwujud kera putih, yang dalam pewayangan disebut Hanoman.

Jika permohonan mereka dikabulkan, mereka melepaskan seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas sebagai tanda atau ucapan terima kasih kepada penjaga pulau. Selain itu, banyak juga yang meminta anaknya dimandikan air kembang agar hidupnya diberkati, kata Salasiah (40), pemandu lain.

Kapal terbalik

Tradisi berziarah dan asal-usul warik di Pulau Kambang punya cerita tersendiri di kalangan masyarakat Kalsel. Konon, pada zaman dulu di Muara Sungai Barito berdiri Kerajaan Kuin yang letaknya strategis sehingga kerajaan ramai dikunjungi pedagang dari sejumlah negeri. Kerajaan memiliki patih yang sangat sakti, berani, dan gagah perkasa, Datu Pujung. Suatu hari, jung (kapal) besar China berlabuh di Sungai Barito dan ingin menguasai Kuin. Sempat terjadi ketegangan. Patih berhasil membuat jung bocor dan tenggelam.

Versi lain, pulau itu terbentuk karena kapal Inggris yang pada 1750 ditenggelamkan orang Bijui atas perintah Sultan Banjar. Selanjutnya, endapan lumpur dan batang kayu yang hanyut menimbunnya membentuk delta.

Dalam cerita yang berkembang, asal-usul banyaknya kera di pulau itu berawal saat salah satu keturunan raja di Kuin tidak dikaruniai anak. Menurut ramalan ahli nujum, jika ingin punya anak, dia harus berkunjung ke Pulau Kembang dengan menggelar upacara badudus (mandi).

Tak lama setelah ritual, keturunan raja pun hamil. Keluarga raja menyambut gembira. Seorang pegawai diperintahkan menjaga pulau agar tak ada yang mengganggunya. Si pegawai lalu membawa sepasang warik bernama Anggur, yang akhirnya beranak pinak menjadi penghuni tetap pulau. (Adi Sucipto Kisswara)
Via: Kera-kera Penghibur dari Pulau Kambang

Cek artikel menarik lain seperti Kera-kera Penghibur dari Pulau Kambang di blog kami.

Menikmati "Sunset" di Pura Batu Bolong






Menikmati "Sunset" di Pura Batu Bolong merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.

NAMA pantai Senggigi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sudah tidak asing lagi di telinga wisatawan dalam dan luar negeri. Obyek wisata pantai Senggigi merupakan pelopor dalam memperkenalkan pariwisata Lombok ke luar negeri.

Tahun 80-an, di sepanjang pantai di kawasan ini masih dipenuhi pohon kelapa, jalanan kurang terawat dan sempit. Namun, kini Senggigi berubah menjadi obyek wisata terkenal di Pulau Lombok. Siang hingga sore hari selalu diramaikan wisatawan. Apalagi malam hari, kehidupan malam pun dimulai dengan menjamurnya restoran dan kafe di kawasan itu.

Melihat matahari terbenam (sunset) merupakan momen yang selalu ditunggu-tunggu wisatawan di sepanjang pesisir pantai barat Pulau Lombok. Banyak tempat untuk melihat sunset dengan latar belakang Gunung Agung di Pulau Bali.

Salah satunya adalah Pura Batu Bolong. Lokasi Pura Batu Bol ong tak jauh dari Senggigi. Bila Anda hendak menuju Senggigi dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB, pasti melewati Pura Batu Bolong.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Pura Batu Bolong di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pura Batu Bolong mengingatkan akan keberadaan Pura Tanah Lot di Tabanan, Bali, yang sama-sama berada di pinggir pantai. Hanya saja Pura Batu Bolong dengan pasir hitamnya memiliki lubang atau bolong di tengahnya sehingga dinamakan batu bolong.

Sejarah keberadaan Pura Batu Bolong tak lepas dari perjalanan seorang pendeta Hindu dari Jawa Timur, Dang Hyang Dwijendra ke Pulau Lombok yang melakukan perjalanan dari Jawa dan Bali. Beliau kerap berpindah-pindah tempat.

Selain mengelilingi pantai selatan Pulau Bali, beliau melanjutkan peralanan spiritual ke kawasan Bali Utara. Seperti Pura Pulaki hingga k e Pura Ponjok Batu, sebelum melanjutkan perjalanan menyeberang ke Pulau Lombok.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Pura Batu Bolong di Pulau Lombok, NTB. Di tempat terakhir itulah Dang Hyang Dwijendra disebutkan sempat menolong beberapa orang bendega atau nelayan perahu yang karam dekat Ponjok Batu. Para bendega asal Lombok yang diselamatkan beliau itu konon turut mengantarkan Dang Hyang Dwijendra yang juga disebut dengan nama Ida Peranda Sakti Wawu Rauh sampai ke Lombok dan menjejakkan kaki di Batu Bolong.

Bagi umat Hindu, Pura Batu Bolong yang berhadapan dengan Selat Lombok dan Gunung Agung di Bali ini memiliki atmosfer spiritual yang mampu memberikan kedamaian dan ketenangan bagi para umat yang bersembahyang di pura ini.

Minggu (30/6/2013), lima pemenang kompetisi foto "Explore Indonesia" yang diadakan Burufly.com tiba di Pulau Lombok untuk memulai kegiatannya berburu foto di obyek-obyek wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kelima pemenang itu adalah Irvan Darmawan, Hadi Setia Darma, Afriandi, Tirta Subhakti Winata, dan Hendro Jap.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Umat Hindu bersembahyang di Pura Batu Bolong, Pulau Lombok, NTB, Minggu (30/6/2013). Burufly.com merupakan portal web berbasis jaringan sosial dengan menitikberatkan pada pariwisata. Kelima pemenang ini mendapatkan tiket ke Lombok yang disponsori oleh H.I.S Tour & Travel setelah lolos seleksi dari tim juri berdasarkan foto-foto yang diunggah ke Burufly.com.

Setelah tiba di Bandara Internasional Lombok di Praya, Kabupaten Lombok Tengah kelima pemenang langsung menuju The Santosa Villas & Resort di kawasan Senggigi, Kabupaten Lombok Barat yang memakan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan bus.

Begitu proses check-in selesai dan diberi waktu 30 menit berkemas-kemas, mereka langsung meluncur ke Pura Batu Bolong yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit dari resort untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset). "Kalau cuaca cerah, kita bisa melihat matahari terbenam dengan latar belakang Gunung Agung," kata Surya Pratama, pemandu wisata yang mengantarkan peserta selama berada di Pulau Lombok.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Pura Batu Bolong, di Pulau Lombok, NTB. Surya benar, sore itu cuaca cerah di Pura Batu Bolong. Umat Hindu terlihat begitu khusuk bersembahyang di pura yang terletak di batu karang pada ketinggian 4 meter tersebut. "Wow, indahnya pemandangan dari sini," kata Irvan ketika memasuki kawasan Pura Batu Bolong.

Masing-masing peserta lantas menyebar sete lah memasuki Pura Batu Bolong. Mereka mengeluarkan kamera dan memulai menjepret obyek-obyek yang sangat menarik di Batu Bolong. Gemuruh ombak memasuki karang yang bolong atau berlubang semakin menambah semangat para peserta berburu foto di sini.

Bahkan mereka memasuki area tempat bersembahyang di mana saat itu dipenuhi umat Hindu yang sedang bersembahyang memuja Idang Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan YME. Bau dupa dan harumnya bunga membuat jiwa dan pikiran semakin tenteram berada di tempat yang suci.

Pura Batu Bolong tak hanya dikunjungi umat Hindu yang akan beribadah, namun juga kerap didatangi para fotografer. Apalagi saat matahari semakin tenggelam di ufuk barat, betapa indahnya melihat sunset dari sini.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Pura Batubolong di Mataram, NTB. Saat matahari perlahan-lahan tenggelam di bali k Gunung Agung, kamera para fotografer tak henti-hentinya merekam peristiwa tersebut. Mereka tak ingin menyia-nyiakan peristiwa tenggelamnya matahari ditemani deburan ombak dan harumnya bunga di tengah keheningan umat Hindu bersembahyang di Pura Batu Bolong...
Via: Menikmati "Sunset" di Pura Batu Bolong

Cek artikel menarik lain seperti Menikmati "Sunset" di Pura Batu Bolong di blog kami.

Tips Memotret Festival Erau






Tips Memotret Festival Erau merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.

Festival Erau adalah salah satu agenda budaya yang termegah dan melibatkan banyak masyarakat Tenggarong dan sekitarnya. Pasalnya Festival Erau mempunyai rangkaian acara budaya yang cukup panjang dan digelar pada tanggal 30 Juni hingga 7 Juli 2013 di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Berikut tips memotret Festival Erau.

1. Gunakan lensa tele dan wide untuk memotret Festival Kutai. Range lensa tele 1755 mm tele range 400 mm.

2. Saat memotret festival di dalam istana Kutai, berpakaianlah yang sopan. Kenakan kemeja dan celana panjang. Siapa saja diperbolehkan meliput festival asal berpakaian sopan karena acara ini diikuti banyak pejabat dan diselenggarakan di dalam istana yang formal.

3. Perayaan Festival Kutai sangat panjang. Acaranya bisa berlangsung seminggu lebih. Karena itu carilah informasi tentang jadwal kegiatan festival ini di website resmi pemerintah daerah Kutai. Carilah event apa saja yang memiliki banyak acara budaya.

4. Pada hari yang tidak banyak acara budaya, kita bisa berkeliling menikmati obyek-obyek wisata lain di Kutai. Acara yang paling akbar biasanya saat pembukaan dan penutupan festival. Jika cukup waktu, ambilah kedua acara ini. Saat itu, ada banyak obyek human interest.

5. Acara yang unik dari Festival Erau adalah saat penutupan. Saat itu ada yang disebut acara belimbur, yaitu setiap warga Kutai menyiramkan air kepada siapa saja, tidak pandang bulu. Saat itu kita sangat tidak disarankan untuk memotret.

6. Namun, jika tetap ingin memotret, jangan membawa peralatan mahal dan bawalah plastik untuk melindungi kamera dari siraman air. Dan, jika tersiram air, aturannya kita tidak boleh marah. Jadi berhati-hatilah jika meliput acara belimbur ini. (Barry Kusuma)


Via: Tips Memotret Festival Erau

Cek artikel menarik lain seperti Tips Memotret Festival Erau di blog kami.

Papua Promosi Pariwisata di Bali






Papua Promosi Pariwisata di Bali merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.

Promosi Pariwisata Papua di Bali. Provinsi Papua dan Papua Barat melakukan promosi pariwisata di Provinsi Bali, karena Bali merupakan ikon pariwisata Indonesia yang sudah dikenal di dunia.

"Bali memang sudah menjadi daya tarik pariwisata dunia, sehingga sangat tepat Pulau Dewata untuk dijadikan tempat berpromosi obyek wisata," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, Edi Sumarwan, pada acara promosi pariwisata Papua dan Papua Barat di Kuta, Jumat (5/7/2013).

Edi mengatakan dengan melakukan promosi pariwisata di Bali diharapkan agen perjalanan wisata dan para wisatawan akan lebih mengenal obyek-obyek wisata yang ada di Papua dan Papua Barat.

"Obyek wisata di kedua provinsi tersebut sangat eksotis pemandangan alamnya, termasuk juga terumbu karangnya masih lestari. Obyek wisata Raja Ampat cukup dikenal bagi wisatawan yang gemar menyelam, karena ham pir 70 persen jenis terumbu karang lautnya ada di objek bawah laut itu," katanya.



Menurut Edi, wisatawan yang dijaring adalah wisatawan yang berkualitas, karena hal ini mengutamakan kelestarian alamnya agar tetap terjaga. "Karena semakin banyak datang wisatawan yang tak peduli dengan lingkungan, maka dampaknya berpengaruh lebih cepat kerusakan alam tersebut," ucapnya.

Edi melanjutkan, kalau dari infrastruktur di obyek-obyek wisata sudah memenuhi standar. Bahkan penunjang, seperti keberadaan hotel bahannya menggunakan bahan-bahan lokal setempat. "Bahan bangunan penunjang fasilitas obyek wisata, seperti hotel diambil bahan lokal, termasuk juga tenaga kerjanya melibatkan masyarakat setempat," ujar Edi.

Namun, Edi juga mengakui biaya transportasi udara menuju dua obyek wisata di Provinsi Papua dan Papua Barat cukup tinggi. "Memang biaya perjalanan menuju Papua dan Papua Barat cukup tinggi, karena itu yang datang saat ini adalah wisatawan kelas ek sekutif dan berkualitas," katanya.

Kegiatan promosi pariwisata daerah tersebut akan diselenggarakan selama dua hari hingga Minggu (7/7/2013) di Pusat Perbelanjaan Centro, Jalan Kartika Plaza Kuta, Bali.
Via: Papua Promosi Pariwisata di Bali

Cek artikel menarik lain seperti Papua Promosi Pariwisata di Bali di blog kami.

DMO Tingkatkan Daya Saing Pariwisata






DMO Tingkatkan Daya Saing Pariwisata merupakan topik kali ini yang akan kita bahas.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pengelolaan destinasi pariwisata melalui tata kelola terpadu atau Destination Management Organization (DMO) selain untuk meningkatkan daya saing pariwisata juga mensejahterakan masyarakat lokal di sekitar daya tarik wisata.

Hal tesebut diungkapkan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim ketika membuka Konsinyering Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pengelolaan Destinasi Pariwisata Melalui Program DMO di Jakarta, Rabu (3/7/2013) seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com.

Tata kelola destinasi pariwisata terpadu (DMO) mengedepankan sinergisitas semua stake holder pariwisata, termasuk dengan masyaraka lokal agar mendapatkan manfaat dalam meningkatkan kesejahteraan mereka, kata Firmansyah.

Firmansyah mengatakan, program DMO diterapkan di 15 da erah destinasi pariwisata di seluruh Indonesia dalam kurung waktu lima tahun 2010 hingga 2014. Sebagian besar dari 15 DMO saat ini sudah berada dalam tahap pengembangan manajemen destinasi, dan sebagian sudah ada yang memasuki tahap penguatan dan penataan organisiasi pengelolaan destinasi atau memasuki tahap transnformasi DMO keempat, kata Firmansyah.

Sementara itu Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Lokot Ahmad Enda mengatakan, sampai saat ini Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya manajemen destinasi pariwisata. "Selain itu kita juga masih menghadapi kompleksitas karakter kepariwisataan baik itu multisektor, multidisiplin, dan multistakeholder," katanya.

Lokot mengatakan, pariwisata bersifat lintas batas atau tidak mengenal batas administratif. Di samping itu, pariwisata melibatkan elemen-elemen yang saling berhubungan satu sama lain sehingga perlu sistem pengelolaan destinasi. Dalam hal ini target pencapaian DMO harus didasa rkan pada target ekonomi, lingkungan, sosial budaya, dan kualitas pengelolaan destinasi.

DMO harus diterapkan dengan strategi koordinasi, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, kemitraan, kepentingan dan tujuan bersama, serta memiliki indikator dan kinerja, tuturnya.

DMO pada dasarnya, kata Lokot, bertujuan untuk meningkatkan kualitas destinasi dan jumlah kunjungan wisatawan melalui pengelolaan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. "Dengan begitu kondisi destinasi kita pada masa depan menjadi lebih baik," katanya.

Ia mencontohkan, destinasi bisa meningkat menjadi berskala internasional bila telah memenuhi indikator di antaranya dikenal secara internasional, dikunjungi wisman, memiliki akses internasional (fisik maupun nonfisik), dan memenuhi standar internasional dari sisi kebersihan hingga kenyamanan.

Sebanyak 15 destinasi pariwisata yang dikembangkan dengan konsep DMO meliputi Kota Tua Jakarta, Pangandaran (Jabar), Borobudu r (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim), Toba (Sumut), dan Sabang (NAD). Selain itu Bali, Rinjani (NTB), Komodo-Kelimutu-Flores (NTT), Tanjung Puting (Kalteng), Derawan (Kaltim), Toraja (Sulsel), Bunaken (Sulut), Wakatobi (Sultra), dan Raja Ampat (Papua).
Via: DMO Tingkatkan Daya Saing Pariwisata

Cek artikel menarik lain seperti DMO Tingkatkan Daya Saing Pariwisata di blog kami.